
Adapun otak kanan lebih berkaitan menangani irama, imajinasi, warna, angan-angan, kesadaran ruang, gambaran menyeluruh dan dimensi. Belakangan berkumandang anjuran, jangan hanya memanfaatkan otak kiri, otak kanan juga dong.
Konon, para ilmuwan hebat memanfaatkan otak kiri. Para seniman kuat di otak kanan. Mana tahu, Sampeyan hebat memanfaatkan otak kiri, canggih membedayakan otak kiri. Piawai menghitung fulus fasih berimajinasi. Mana tahu lho.
Kita tidak usahlah terlalu jauh mencari contoh ke Einstein atau Picasso. Perhatikan saja sekeliling. Di sekitar kita banyak orang hebat. Hanya saja harap diingat, konon Eistein yang gagal di banyak pelajaran, seperti bahasa dan seni, yang dikatakan Si Jenius itu baru memakai sekitar 3% kapasitas otaknya. Sampeyan? Kira-kira sendiri.
Bisa jadi, banyak orang hebat memberdayakan otak kiri piawai menafatkan otak kanan. Yang pasti, satu sisi otak saja dimanfaatkan dengan baik, hasilnya spektakular.
Kebetulan, kemarin saya diundang makan oleh mantan Dirut BPD di provinsi kami. Dia berkehendak mencalonkan diri sebagai anggota DPD; kami bicara banyak hal. Dan, yang menarik saya, kebetulan adiknya ikut pembicaraan. Lebih menarik lagi, si adik berkeluh kesah: anaknya tidak lulus UN.
Alasannya, anaknya jago menggebuk drum. Hobinya, main musik. Ketidakhadirannya belajar mencapai 70%. Saya teringat hal belahan otak.
“Pak, coba bawa ke psikolog. Kalau otak kanannya lebih hebat, kecenderungannya ke seni, jangan memaksa ke bidang akademis”. Ah, sistem pendidikan Indonesia nampaknya bertitiktekan pada akademis, kurang memperhatikan potensi pembelajar. Celakanya pula, kalau lemah di bidang akademis divonis ‘tidak berguna’ alias bodoh.
Renungkan. Kita punya ribuan doktor ahli secara akademik, tetapi banyak sisi potensi terlupakan. Bayangkan, dengan demikian banyak ahli, kita menjadi pengimpor beras terbesar di dunia, pengimpor kedelai terhebat di jagat raya ini, pasar otomotif tak terbatas, dan bla-bla. Kita kurang imajniasi, kurang mampu ‘bermimpi’ dan mewujudkannya.
Perhatikan, begitu banyak sarjana ‘ilmu keras’ yang tidak mampu mengembangkan, apalagi memantik kehidupan dan kemajuan dengan ilmunya. Susah-susah belajar ‘ilmu murni’, eh … malah mengambil Akta IV, akta mengajar. Ada-ada saja. Pendidikan yang begitu mahal terbuang.
Doktor energi, bekerja di bank, menjadi menteri yang megurus tenaga kerja, misalnya. Hitungan dasarnya, ‘untung rugi’, matematis. Wajar to kita kelabakan soal pangan, energi, dan seterusnya. Jadi tentara kog mengurus pendidikan, ahli ekonomi kog ngak ngurusi keuangan negara mencemaskan, malah jadi menteri (…). Ada-ada saja.
Kembali ke otak kanan dan otak kiri, memang idealnya keseimbangan. Tetapi, fakta menunjukkan, mungkin karena keterbatasan mansuia, mereka yang hebat —sangat menonjol— di otak kanan belum tentu hebat di otak kiri. Begitu sebaliknya. Sekalipun begitu, tentu tidak jadi soal. Asal, jangan mematikan fungsi belahan. Kalau mati satunya, bisa stroke he he.
Pesanya, otak kira atau otak kanan yang lebih dominan berkembang, mungkin tergantung pada hal lain, gen misalnya. Tapi sudahlah. Tulisan ini tidak membahas secara filsafati atau teknis. Apungannya, jangan sampai terjebak, kalau otak kiri kurang berkembang, langsung divonis bodoh.
Sayangliah kedua belahan otak karena belahan tersebut saling berkaitan dan menunjang. Perkembangan yang satu bukan berarti membunuh yang satunya. Mari dikembangkan dan dimanfaatkan maksimal.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas