SELAMAT DATANG DI WWW.SAHABATYANTI.BLOGSPOT.COM
SEMOGA BERMANFAAT UNTUK SAHABAT SEMUA

Selasa, 16 Maret 2010

OTAK KANAN & OTAK KIRI

SESEORANG yang ‘hebat’ secara akademis, pada umumnya sangat kuat dalam logika, kata, daftar, angka, linieritas, analisis, dan sejenisnya. Menurut Tony Buzan (Use Your Head: 1993): hasil aktivitas otak kiri manusia.


Adapun otak kanan lebih berkaitan menangani irama, imajinasi, warna, angan-angan, kesadaran ruang, gambaran menyeluruh dan dimensi. Belakangan berkumandang anjuran, jangan hanya memanfaatkan otak kiri, otak kanan juga dong.


Konon, para ilmuwan hebat memanfaatkan otak kiri. Para seniman kuat di otak kanan. Mana tahu, Sampeyan hebat memanfaatkan otak kiri, canggih membedayakan otak kiri. Piawai menghitung fulus fasih berimajinasi. Mana tahu lho.

Kita tidak usahlah terlalu jauh mencari contoh ke Einstein atau Picasso. Perhatikan saja sekeliling. Di sekitar kita banyak orang hebat. Hanya saja harap diingat, konon Eistein yang gagal di banyak pelajaran, seperti bahasa dan seni, yang dikatakan Si Jenius itu baru memakai sekitar 3% kapasitas otaknya. Sampeyan? Kira-kira sendiri.

Bisa jadi, banyak orang hebat memberdayakan otak kiri piawai menafatkan otak kanan. Yang pasti, satu sisi otak saja dimanfaatkan dengan baik, hasilnya spektakular.

Kebetulan, kemarin saya diundang makan oleh mantan Dirut BPD di provinsi kami. Dia berkehendak mencalonkan diri sebagai anggota DPD; kami bicara banyak hal. Dan, yang menarik saya, kebetulan adiknya ikut pembicaraan. Lebih menarik lagi, si adik berkeluh kesah: anaknya tidak lulus UN.

Alasannya, anaknya jago menggebuk drum. Hobinya, main musik. Ketidakhadirannya belajar mencapai 70%. Saya teringat hal belahan otak.

“Pak, coba bawa ke psikolog. Kalau otak kanannya lebih hebat, kecenderungannya ke seni, jangan memaksa ke bidang akademis”. Ah, sistem pendidikan Indonesia nampaknya bertitiktekan pada akademis, kurang memperhatikan potensi pembelajar. Celakanya pula, kalau lemah di bidang akademis divonis ‘tidak berguna’ alias bodoh.

Renungkan. Kita punya ribuan doktor ahli secara akademik, tetapi banyak sisi potensi terlupakan. Bayangkan, dengan demikian banyak ahli, kita menjadi pengimpor beras terbesar di dunia, pengimpor kedelai terhebat di jagat raya ini, pasar otomotif tak terbatas, dan bla-bla. Kita kurang imajniasi, kurang mampu ‘bermimpi’ dan mewujudkannya.

Perhatikan, begitu banyak sarjana ‘ilmu keras’ yang tidak mampu mengembangkan, apalagi memantik kehidupan dan kemajuan dengan ilmunya. Susah-susah belajar ‘ilmu murni’, eh … malah mengambil Akta IV, akta mengajar. Ada-ada saja. Pendidikan yang begitu mahal terbuang.

Doktor energi, bekerja di bank, menjadi menteri yang megurus tenaga kerja, misalnya. Hitungan dasarnya, ‘untung rugi’, matematis. Wajar to kita kelabakan soal pangan, energi, dan seterusnya. Jadi tentara kog mengurus pendidikan, ahli ekonomi kog ngak ngurusi keuangan negara mencemaskan, malah jadi menteri (…). Ada-ada saja.

Kembali ke otak kanan dan otak kiri, memang idealnya keseimbangan. Tetapi, fakta menunjukkan, mungkin karena keterbatasan mansuia, mereka yang hebat —sangat menonjol— di otak kanan belum tentu hebat di otak kiri. Begitu sebaliknya. Sekalipun begitu, tentu tidak jadi soal. Asal, jangan mematikan fungsi belahan. Kalau mati satunya, bisa stroke he he.

Pesanya, otak kira atau otak kanan yang lebih dominan berkembang, mungkin tergantung pada hal lain, gen misalnya. Tapi sudahlah. Tulisan ini tidak membahas secara filsafati atau teknis. Apungannya, jangan sampai terjebak, kalau otak kiri kurang berkembang, langsung divonis bodoh.

Sayangliah kedua belahan otak karena belahan tersebut saling berkaitan dan menunjang. Perkembangan yang satu bukan berarti membunuh yang satunya. Mari dikembangkan dan dimanfaatkan maksimal.

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 13 Maret 2010

Belajar Kepribadian Dari Lebah

Pada waktu kecil dulu, saya dan teman-teman suka main bersama. Suatu hari kami main ke lapangan bola sambil membawa ketapel untuk berburu burung. Di pinggir lapangan, ada beberapa pohon mahoni yang besar-besar. Sambil melihat-lihat siapa tahu ada burung yang sedang hinggap di dahan atau rantingnya, kami mengamati dengan seksama. Tak ada satu burung pun kami lihat, tapi mata saya menemukan sebuah benda bulat kecoklatan sebesar tempurung kelapa tergantung di sebuah ranting dan benda itu dikerumuni banyak lebah. Ya, tak salah lagi itu adalah sarang lebah penyengat yang tubuhnya coklat dengan ujung perut berwarna kuning. Tak lama kemudian saya memberitahu teman-teman, dan tanpa dikomando ketapel kami rame-rame menyerbu sarang lebah itu tanpa ampun.


Tanpa menunggu lama, beberapa batu kerikil peluru ketapel kami mengenai sasaran hingga hancur. Tak disangka-sangka, tiba-tiba puluhan lebah keluar dan terbang rendah mencari musuh yang telah merusak sarangnya. Beberapa teman lari terbirit-birit dikejar lebah yang sedang marah. Ada juga yang disengat hingga menangis. Sementara itu, seorang teman memberitahu agar saya dan yang lain tiarap untuk menghindari kejaran lebah-lebah tadi. Benar juga…, sambil tiarap di atas rumput, di atas kami menderu dengung lebah-lebah yang terbang ke sana - ke mari mencari dan menunggui kami. Setelah hampir satu jam, baru lebah-lebah itu terbang kembali ke pohon, dan akhirnya kami pun pulang dengan perasan takut masih membayangi.

Mengingat pengalaman di atas, trauma juga bila berhadapan dengan lebah. Pernah juga pipi dan tangan ini bengkak oleh sengatannya. Namun bila direnungkan, serangga yang satu ini memiliki beberapa tabiat/kepribadian yang patut kita contoh.

  1. Makanan lebah adalah sari bunga
    Dari dulu hingga sekarang, lebah selalu memakan sari bunga yang manis. Tak pernah keliru satu kali pun lebah memakan ampas kedelai atau meminum air comberan, walau saat itu tak ada makanan satu pun ia temui.

    • Hal ini memberikan kita inspirasi untuk selalu memakan makanan yang baik dan jelas kehalalannya. Halal baik substansinya, maupun cara mendapatkannya. Pastikan bahwa apa yang kita makan adalah makanan yang halal dan bergizi, (dan bergizi itu tidak harus mahal). Jadi, seorang koruptor yang makan dan menghidupi keluarga dari hasil korupsinya, tidakkah ia malu dengan seekor lebah??

  1. Ke mana pun lebah hinggap, tak ada ranting yang patah
    Tubuh lebah yang mungil, membuat ia leluasa terbang dan hinggap di mana pun tanpa merusak tempat ia berhenti. Sekecil apa pun sebuah ranting pohon, tak ada yang patah dihinggapi seekor lebah. Lebah tak pernah dapat masalah dan menjadi masalah di mana pun ia hinggap.

    • Hal ini memberikan kita inspirasi untuk dapat beradaptasi dengan baik di mana pun kita berada. Di mana pun kita tinggal, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat yang ada. Seperti kata pepatah, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Sebisa mungkin kita menebar manfaat di mana pun kita berada.

  1. Sekali terusik, lebah akan menyerang musuh tanpa ampun

Lebah bila tidak diusik atau disakiti, maka akan bersikap bersahabat dan tidak membahayakan siapa pun. Namun seperti cerita di atas, sekali lebah diusik tanpa salah, maka mereka akan mengejar musuhnya tanpa ampun. Walaupun kita sudah terjun ke sungai, tetap saja mereka menunggui kita. Sekali kepala kita muncul dari air, maka mereka akan serentak menyerang dan menyengat tanpa ampun.

  • Hal ini memberikan kita inspirasi untuk bersikap ksatria. Sekali harga diri kita dihina, dilecehkan, atau direndahkan, maka kita harus bangkit mengepalkan tangan membelanya. Apalagi bila harga diri atau kedaulatan bangsa dan negara kita yang jadi korban, maka kita wajib spontanitas membelanya, walau nyawa taruhannya.
  1. Tiada yang dihasilkan lebah kecuali madu

Dari bahan yang berharga akan dihasilkan produk yang berharga pula. Begitu juga dengan lebah, tiada yang dihasilkannya kecuali madu. Madu lebah sangat manis dan mengandung manfaat yang sangat banyak untuk kesehatan dan pengobatan. Tidak pernah saya dengar ada lebah yang error dan keliru menghasilkan limbah. Karena kelebihan lebah yang dapat menghasilkan madu inilah, Tuhan sampai mengabadikannya dalam kitab suci.

  • Hal ini memberikan kita inspirasi untuk tidak menghasilkan sesuatu dalam hidup ini kecuali yang berharga dan penuh manfaat bagi orang banyak. Semua profesi menghasilkan suatu produk, baik barang maupun jasa. Bila kita sudah belajar dari lebah, maka tiadalah produk tersebut tersaji melainkan dengan kualitas yang terbaik dan penuh manfaat.


Dewasa ini, banyak produser film yang memproduksi film yang merusak moral. Banyak fotografer yang foto-fotonya meracuni pikiran orang yang melihatnya. Banyak juga website-website yang isinya menghancurkan moral, dan masih banyak lagi. Tidakkah mereka belajar kehidupan dari lebah??

Demikianlah sahabat yang budiman, semoga kita bisa belajar kepribadian dan filosofi hidup dari hewan bernama lebah tersebut, sehingga hidup kita menjadi lebih bermakna dan sukses pun akan semakin dekat dengan kita. Semakin hidup kita bermanfaat bagi sesama, semakin terasa indah hidup ini.

Selamat belajar!


Penulis : Agus Riyanto

Baca Selengkapnya...

Belajar Metamorfosis Dari Kupu Kupu


Di suatu pagi yang cerah, saya duduk menyendiri di sebuah taman yang dipenuhi berbagai macam tanaman bunga. Saya menghela nafas dalam-dalam sambil menikmati suasana sekitar yang hening. Tiba-tiba pandangan saya terhenti oleh keindahan seekor kupu-kupu yang sedang hinggap di sekuntum bunga. Kupu-kupu itu terlihat sangat elok rupawan dengan sayap yang warna-warni. Sungguh indah Tuhan menciptakan hewan kecil ini dengan kombinasi warna yang sangat serasi.

Kupu-kupu itu hinggap di setangkai kuntum bunga cukup lama untuk menghisap madunya, kemudian hinggap di kuntum bunga yang lain, begitu seterusnya. Terkadang datang kupu-kupu lain yang tak kalah cantiknya, seolah mereka bertutur sapa, kemudian berlomba menghisap sari bunga. Mereka terlihat riang menjalani hidupnya masing-masing.

Melihat kupu-kupu tadi, saya jadi teringat asal mula kupu-kupu yang indah tersebut. Bukankah dia yang kini terlihat elok rupawan dan memukau banyak mata, dulunya adalah seekor ulat yang untuk sebagian orang merasa jijik jika melihatnya. Bahkan ada sebagian wanita yang akan berteriak ketakutan bila melihat makhluk berbulu ini didekatnya. Kesannya mungkin takut, jijik, atau bahkan alergi. Tapi toh, setelah berubah rupa menjadi kupu-kupu yang cantik, siapa sih yang nggak suka melihatnya???

Ternyata setelah melihat sejarah hidupnya, kupu-kupu yang cantik itu telah melewati berbagai tahap kehidupan yang mengantarkannya pada sosok yang sekarang ini. Dulunya ia hanya seekor ulat yang buruk rupa, hidupnya merayap di dahan dan dedaunan, dan kalau tidak beruntung hidupnya berakhir dimakan burung atau serangga pemangsanya.

Setelah matang menjalani kehidupan sebagai ulat, ia pun mencari tempat yang aman dan berubah menjadi kepompong. Badannya terbujur kaku menggantung di dahan atau dedaunan. Ia tak peduli walau siang hari panas terik menyengatnya dan malam hari dingin menusuknya. Bahkan tak jarang hujan dan badai menerpanya. Ia tetap kokoh ditempatnya bersemedi untuk berubah menjadi diri yang baru, diri yang penuh pesona keindahan.

Beberapa waktu kemudian, akhirnya keluarlah ia dari kepompongnya menjadi diri yang sama sekali baru, indah memukau dengan sayap barunya dan tubuh yang cantik, jauh beda dari wujudnya semula. Dan kini ia telah memiliki keahlian baru, yakni bisa terbang! Lalu ia pun terbang berkelana mencari kuntum-kuntum bunga yang indah untuk menghisap sari bunga dan menebarkan telur-telur penerus kehidupannya.

Begitulah metamorfosis seekor kupu-kupu; dari telur ia menetas jadi ulat, dari ulat ia menempa diri dalam kepompong, dan dari kepompong lalu lahirlah kupu-kupu yang indah menawan. Tahap kehidupannya ia jalani dari generasi ke generasi tanpa ada satu tahap pun yang dapat ia lompati. Tak ada seekor kupu-kupu mana pun yang langsung menetas dari telur, melainkan keluar dari kepompongnya.

Demikianlah, kadang kita ingin menjadi kupu-kupu yang indah, tapi kita tidak mau jadi ulat yang buruk rupa, tidak sanggup menjalani kehidupan kepompong yang tak berdaya. Maunya langsung jadi sesuatu yang indah, memukau, mengagumkan dan jadi pusat perhatian banyak orang,langsung jadi kupu-kupu!

Perubahan Diri Maka sahabat, kalau kita ingin jadi kupu-kupu yang cantik, sanggupkah kita menjalani metamorfosis kehidupan?? Metamorfosis itu sendiri bisa dimaknai sebagai perubahan yang dahsyat atau perubahan besar dalam sifat.

Untuk menjadi kupu-kupu yang cantik penuh pesona, sanggupkah kita menjalani ketertatihan sebagai ulat yang buruk rupa, kadang dihina dan dijelek-jelekkan? Di saat tak ada yang menghargai, mendukung atau menolong kita, tapi kita harus tetap melangkah dan terus melangkah karena kita yakin tujuan akhir perjalanan ini.

Kuatkah kita menghadapi berbagai tempaan dan cobaan, derita dan kesendirian dalam kepompong yang tak berdaya dan memintal benangnya sendiri? Bersabar dalam tempaan hidup, cobaan dan godaan, menjalani proses dengan sebaik-baiknya sebelum kita akhirnya lahir menjadi diri yang baru, diri kita yang sesungguhnya, diri yang indah dan menebarkan keindahan di mana pun kita berada.

Sahabat yang budiman, tiada sukses yang didapat dengan mudah. Semua perlu proses; semua butuh keuletan, kesabaran dan ketabahan dalam menjalani tahap-tahap sebelum sampai pada puncak kehidupan.

Tidak ada yang akan merubah diri dan keadaan kita melainkan diri kita sendiri. Dalam kitab suciNya Tuhan berfirman. "Sesungguhnya Alloh tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadan yang ada pada diri mereka sendiri."

Jangan lupa untuk berdoa, memohon petunjuk dan pertolongan pada Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengabulkan Permohonan hamba-Nya.

Mari kita jalani setiap tahap dan episode hidup ini dengan penuh kearifan, kita tekadkan untuk terus berubah menjadi lebih baik, sehingga akhirnya kita bisa bermetamorfosis menjadi pribadi yang sukses bagaikan kupu-kupu penghias taman. Menjadi teladan yang baik bagi umat manusia!

Selamat bermetamorfosis, menjadi manusia yang luar biasa!

Penulis : Agus Riyanto


Baca Selengkapnya...