SELAMAT DATANG DI WWW.SAHABATYANTI.BLOGSPOT.COM
SEMOGA BERMANFAAT UNTUK SAHABAT SEMUA

Senin, 19 Juli 2010

TIGA PILAR KEHIDUPAN

Tiga pilar kehidupan bagi seorang muslim adalah Taqwallah, Taqarruban billah, dan Ridhallah. Demikianlah yang harus dipahami secara tepat, sebab apabila ketiga pilar kehidupan di atas dilalaikan oleh seorang manusia, maka hidup ini hanya akan menjadi "sampah". Dan hal itu telah banyak kita saksikan betapa mengenaskan kondisi para manusia yang telah meninggalkan tiga pilar kehidupan tersebut.

Sebagai seorang muslim mukmin kita jangan sampai meningglkan ketiga pilar di atas. Betapa ruginya jika ada seorang muslim yang telah berani meninggalkan: perilaku taqwa, perilaku Taqarrub dan perilaku ridha. Sebab di kehidupan dunia yang sementara ini sebenarnya secara essensial adalah hanya menunggu datangnya saat ajal menjemput. Kita haru s benar-benar sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, tidak ada kekekalan sama sekali. Hidup di dunia penuh dengan kenisbian yang terus berganti-ganti dan berubah-ubah. Maka jika seseorang tidak memiliki prinsip-prinsip ketauhidan yang diejawantahkan ke dalam tiga pilar kehidupan, secara otomatis dia akan menjadi manusia yang gagal di kehidupannya. Sebagaimana telah dinyatakan-Nya,

"Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)." (QS. Ar Ra'd [13]: 26)

Taqwallah

Sebagai seorang muslim mukmin dikehidupan ini harus sadar benar, disamping harus memahami bahwa hakekat hidup yang sebenarnya adalah melakukan pengabdian kepada-Nya yang hal itu diwujudkan dengan terus menerus meningkatkan ketaqwaan padaNya.

Taqwa yang dimaksud yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri dan memelihara diri dari segenap hal yang dapat mendatangkan murka-Nya dan laknat rasul-Nya (Miftahul Luthfi Muhammad: 2006). Karenanya kehidupan dikatakan sukses manakala seorang muslim itu benar-benar mampu menjaga diri dan memelihara dirinya dari segenap hal yang dapat mendatangkan murkaNya dan laknat RasulNya.

Sebaliknya, dikatakan tidak sukses jikalau dikehidupan keseharianya tidak lagi mampu memelihara dan menjaga dirinya dari segenap hal yang dapat mendatangkan murkaNya dan laknat RasulNya. Seseorang yang telah CC (commitment and consistent) dengan ketakwaanya maka ia telah memiliki salah satu dari tiga pilar kehidupan di dunia ini. Akan tetapi belumlah membahagiakan di kehidupan ini manakala seorang muslim tidak melengkapinya dengan taqarruban 'inda- Allah dan ridhaLlah.

Taqarruban 'inda-Llah



Yang tidak boleh dilalaikan oleh seorang muslim mukmin adalah di mana keseharian kehidupan ini harus melakukan pendekatan diri denganNya. Setiap saat, setiap hari begitu seterusnya. Selagi dirinya masih hidup di dunia. Itulah konsekuensi logis dari kemusliman dan kemukminannya.

Tanpa upaya dan usaha yang sungguh-sungguh di adalam melkukan pendekatan diri denganNYa, maka menjadi sia-sia lah segenap aktifitas kegiatannya selama hidup di dunia. Karenanya usah adan upaya didalam meningkatkan taqwa kepada Allah hendaknya harus merupakan pencerminan sekaligus wujud pengejawantahan dari pendekatan dirinya kepada Allah Azza Wa Jalla. Di sinilah kedudukan Niat (inner strong intention) menjadi sangat penting guna mendorong lahirnya kemauan (force of character) dan kemampuan (ability) untuk meakukan perubahan perilaku (behavior transformation) dan pembelajaran sifat (character learning), guna melakukan pendekatan diri denganNya.

Dan harus disadari bahwa upaya pendekatan diri kepadaNya merupakan usaha murni yang ditujukan semata untuk memperoleh ridhaNya. Sebab dinul Islam telah mengajarkan betapa ruginya kelak disisiNya apabila seorang hamba itu segenap jerih payahnya tidak mendapatkan RidhaNya.

Ridhallah

Ridhallah merupakan puncak dari segala hal yang hendak dicapai oleh seorang muslim mukmin di kehidupanNya. Hanya dengan mendapatkan ridhaNya seorang hamba itu akan mendapatkan cinta dan kasih sayangnya yang secara khusus akan menjadikan diri seorang hamba itu bagian dari para hamba yang telah dipilihNya. Bagaimanapun kita harus sadar bahwa seorang hamba Allah masuk surga itu semata karena kehendakNya, bukan karena yang lainnya, karenanya, sama sekali kita tidak dapat membanggakan segenap amaliah yang telah dilakukan di kehidupan dunia ini.

Betapa ruginya jika di kehidupan ini seseorang melakukan segenap kegiatan tidak diniatkan hanya untuk mencari ridhaNya. Sudah dapat dipastikan bahwa orang seperti ini sangat lemah keyakinan dan keimanannya. Secara riil hal itu dapat dilihat dengan tidak adanya ghirah di dalam mengamalkan sikap mental di dalam menomor satukan Allah, jujur dan ikhlas.

Apabila di kehidupan ini seseorang sangat lemah pada komitmen dan konsistensinya terhadap kekuatan segitiga Al Mamsyuk tersebut diatas. Sudah dapat dipastikan gaya hidup dan cara berpikir budaya kafir akan cepat dengan mudah mewarnai diri dan kerpribadiannya.

Suatu misal, untuk saat ini betapa beratnya yang pasti karena dorongan hawa nafsunya untuk tidak memiliki televisi dan telepon genggam. Padahal bagi seorang muslim yang seharusnya dilakukan adalah apa manfaatnya buat aqidah-syariah-akhlak, bukan karena alasan gengsi atau memang zaman menghendakinya untuk memiliki. Maka ketiadaan dua fasilitas komunikasi itu seolah telah menjadikan diri seseorang "mundur" ke zaman batu. Benarkah demikian?

Apapun ocehan dan cemoohan dari orang lain haruslah didayagunakan untuk menjadi daya dorong yang positif –konstruktif. Di sisi lain kita harus tetap teguh dengan sgenap prinsip yang telah kita pilih. Kita tidak perlu khawatir dengan prinsip-prinsip kita, sebab landasan teori yang diajarkan sangat jelas yaitu Neraca Syariat.

Karena hidup kita hanya mencari RidhaNya maka segenap hal yang tidak dapat mendatangkan ridhaNya dan Ridha RasulNya harus ditinggalkan. Apa saja! Jadi ukuran kemnfaatan yang di kehendaki dalam ajaran islam adalah memenuhi unsure ridha dan tidaknya Allah dan RasulNya terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang manusia khususnya dikehidupan keseharian seorang muslim mukmin.

Munculkan kesadaran diri (self awareness)

Kesadaran diri seorang manusia dapat dimunculkan manakala seseorang itu telah menghadapi tekanan dan kebuntuan jalan hidup. Akan tetapi bagi seoaran gmuslim mukmin haru sterus menerus melakukan pembelajaran sifat (character learning) lalu diikuti dengan perubahan perilaku (behavior transformation). Karena hanya dengan model yang demikianlah seseorang itu dapat meningkatkan percepatan keyakinan (quantum believing). Maka, untuk menumbuhkan percepatan keyakinan hal itu dapat dilakukan mulai sedini mungkin. Bahkan, ketika mausia masih dalam bentuk janin, seorang manusia sudah dapat dilakukan pembelajaran sifat yang baik (a good character learning).

Karenanya di dalam dinul islam banyk diajarkan berbagai macam motivasi kecerdasan yang bersumber dari tauhid-syariah-akhlak. Dalam hal iini dinul islam benar-benar menjadi motivasi kecerdasan sehingga mendorong terlahirnya niat untuk melakukan perubahan perilaku. Dan dari sinilah akan mulai muncul kemauan untuk melakuakn akselerasi sikap mental (attitude acceleration) sehingga sadar benar bahwa dirinya adalah seoang muslim mukmin yang merupakan ummat mulia yang dimulakaNya.

Abad XXI dunia sangat diramaiakan dengan berbagai macam kemauan dan kemampuan. Barang siapa yang memiliki kemauan dan kemampuan, maka merekalah yang dapat hidup pada abad ini. Sebaliknya barang siap tidak memiliki kemauan dan kemampuan, maka mereka akan secara otomatis tersingkirkan dari panggung dunia yang konon telah disebut zaman modern. Terlepas dari kesemuanya dinul islam telah mengajarkan bahwa seorang muslim haruslah senantiasa memiliki kemauan dan kemampuan. Sebab apalah artinya hidup di dunia yang sementara ini tidak memiliki kemauan dan kemampuan.
Sebagaimana yang dikehendakiNya:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al Qashash [26] : 77)

Dalam rangka memenuhi pesanNya pada ayat diatas hal itu yidak dapat terwujud tanpa memiliki kemauan dan kemampuan. Merebut akhirat dan menundukkan dunia sangat dibutuhkan pula kemauan dan kemampuan.

Sementara kenyataan pelaku kerusakan di negeri ini sebagian besar orang islam. Bolehlah kita berapologia karena mayoritas pendududknya beragama Islam. Tapi apa memang demikian adanya?

Tidakkah hal itu akibat langsung dari kegagalan model dakwah dan tarbiyah yang selama ini tengah berlangsung?

Tidakkah zaman dahulu para da'i lebih berhasil mengislamkan penduduk asli bangsa ini yang mayoritas masih mengikuti keyakinan dinamisme, animism, dan hinduisme. Sedangkan sekarang ini para da'I kan hanya mengislamkan orang islam, kenapa tidak berhasil?

Padahal sangat sederhana dalam mengislamkan orang islam. Yaitu menjadikan seorang muslim komitmen dan konsisten dengan ajaran dinul islam. Sebagaimana dinyatakanNya:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
"Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta."
"Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
(QS. Al Fusshilat [41] : 30 - 33)

Sungguh inilah sebuah realitas yang sangat sulit didapatkan saat segala sesuatu sudah dinilai dengan uang. Sungguh sangat ironis jika seorang muslim ikut melakukan hal serupa, dan anehnya merasa nyaman dengan menyerupai orang-orang yang tidak mendapatkan ridhaNya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini.

Oleh: KH. Miftahul Lutfi Muhammad al Mutawakkil Penulis ialah Pengasuh Ma’had Tee Bee Tambak Bening Surabaya.

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 12 Juni 2010

Tetap Semangat Dalam Hal yang Bermanfaat

Jika tidak memperoleh sesuai yang diinginkan, janganlah berkata: “Seandainya akulakukan demikian dan demikian, pasti…”

Lalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’” Maksudnya di sini adalah setelah engkau semangat dan giat melakukan sesuatu, juga engkau tidak lupa meminta pertolongan pada Allah, serta engkau terus melakukan amalan tersebut hingga usai, namun ternyata hasil yang dicapai di luar keinginan, maka janganlah engkau katakan: “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian.” Karena mengenai hasil adalah di luar kemampuanmu. Kamu memang sudah melaksanakan sesuatu prosedur yang diperintahkan, namun Allah pasti tidak terkalahkan dalam setiap putusan-Nya.
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21)

Misalnya: Seseorang ingin melakukan perjalanan jauh dalam rangka mengunjungi saudaranya. Namun di tengah jalan mobil yang dia gunakan rusak. Akhirnya dia pun kembali, lalu berkata: Seandainya aku tadi menggunakan mobil lain tentu tidak akan seperti ini. Kami katakan: Janganlah engkau katakan demikian. Engkau memang sudah giat melakukan amalan tersebut. Seandainya Allah menghendakimu sampai ke tempat tujuan, itu pun karena takdir-Nya. Akan tetapi saat ini, Allah tidak menghendakinya.
Kenapa tidak boleh mengatakan “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, pasti…”?

Jika seseorang telah mencurahkan seluruh usaha untuk melakukan suatu amalan, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai keinginan, maka pada saat ini hendaklah ia menyandarkan segala urusannya pada Allah karena hanya Dia-lah yang menakdirkan segalanya. Oleh karena itu, maksud hadits ini adalah: “Jika engkau telah mencurahkan seluruh usahamu, juga tidak lupa meminta pertolongan pada Allah, lalu hasilnya tidak tercapai, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku melakukan demikian, maka nanti akan demikian dan demikian’.” Ketetapan mengenai hal ini telah ada, tidak mungkin hal tersebut diubah kembali. Urusan tersebut telah ditetapkan di Lauh Al Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi 50.000 tahun yang lalu.

Apa hikmah tidak boleh mengatakan ‘Seandainya aku melakukan demikian, maka pasti akan demikian dan demikian’? Hal ini diterangkan dalam perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya, “Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” Maksudnya apa? Yaitu perkataan law (seandainya) dalam keadaan seperti ini akan membuka rasa was-was, sedih, timbul penyesalan, dan kegelisahan. Akibatnya karena rasa sedih semacam ini, engkau pun mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian, maka pasti akan demikian dan demikian.”

Apakah Semua Perkataan Seandainya Terlarang?

Kata law (seandainya atau andaikata) biasa digunakan dalam beberapa keadaan dengan hukum yang berbeda-beda. Berikut rinciannya sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Qoulul Mufid (2/220-221), juga oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Bahjatul Qulub (hal. 28) dan ada beberapa contoh dari kami.

Pertama: Apabila ucapan ’seandainya’ digunakan untuk memprotes syari’at, dalam hal ini hukumnya haram. Contohnya adalah perkataan: “Seandainya judi itu halal, tentu kami sudah untung besar setiap harinya.”

Kedua: Apabila ucapan ’seandainya’ digunakan untuk menentang takdir, maka hal ini juga hukumnya haram. Semacam perkataan: “Seandainya saya tidak demam, tentu saya tidak akan kehilangan kesempatan yang bagus ini.”

Ketiga: Apabila ucapan ’seandainya’ digunakan untuk penyesalan, ini juga hukumnya haram. Semacam perkataan: “Seandainya saya tidak ketiduran, tentu saya tidak akan ketinggalan pesawat tersebut.”

Keempat: Apabila ucapan ’seandainya’ digunakan untuk menjadikan takdir sebagai dalih untuk berbuat maksiat, maka hukumnya haram. Seperti perkataan orang-orang musyrik:
وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ
“Dan mereka berkata: ‘Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).’” (QS. Az Zukhruf: 20)

Kelima: Apabila ucapan ’seandainya’ digunakan untuk berangan-angan, ini dihukumi sesuai dengan yang diangan-angankan karena terdapat kaedah bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan.

Jadi, apabila yang diangan-angankan adalah sesuatu yang jelek dan maksiat, maka kata andaikata dalam hal ini menjadi tercela dan pelakunya terkena dosa, walaupun dia tidak melakukan maksiat. Misalnya: “Seandainya saya kaya seperti si fulan, tentu setiap hari saya bisa berzina dengan gadis-gadis cantik dan elok.”
Namun, apabila yang dianggan-angankan adalah hal yang baik-baik atau dalam hal mendapatkan ilmu nafi’ (yang bermanfaat). Misalnya: “Seandainya saya punya banyak kitab, tentu saya akan lebih paham masalah agama.” Atau kalimat lain: “Seandainya saya punya banyak harta seperti si fulan, tentu saya akan memanfaatkan harta tersebut untuk banyak berderma.”

Keenam: Apabila ucapan ’seandainya’ digunakan hanya sekedar pemberitaan, maka ini hukumnya boleh. Contoh: “Seandainya engkau kemarin menghadiri pengajian, tentu engkau akan banyak paham mengenai jual beli yang terlarang.”

Haruslah Engkau Yakin, Semua Ini Adalah Takdir Allah
Setelah kita berusaha melakukan yang bermanfaat, lalu tidak lupa memohon pertolongan pada Allah dan kita tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, janganlah sampai lisan ini mengatakan: “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, …” Oleh karena itu, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah.” Maksudnya adalah ini semua sudah menjadi takdir dan ketetapan-Nya. Apa saja yang Allah kehendaki, pasti Dia laksanakan.
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Huud: 107)

Tidak ada seorang pun yang berada di bawah kekuasaan-Nya mencegah kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, pasti terjadi.

Akan tetapi, wajib engkau tahu bahwa Allah subhnahu wa ta’ala tidak melainkan sesuatu melainkan ada hikmah di balik itu yang tidak kita ketahui atau pun sebenarnya kita tahu. Yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan: 30)
Ayat di atas menjelaskan bahwa kehendak Allah berkaitan dengan hikmah dan ilmu. Betapa banyak perkara yang terjadi pada seseorang, namun di balik itu ada akhir yang baik. Sebagaimana pula Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)

Banyak cerita mengenai hal ini. Ada sebuah kejadian kecelakaan pesawat terbang di Saudi Arabia yaitu penerbangan Riyadh-Jeddah. Penumpang yang akan menaiki pesawat terbang tersebut adalah lebih dari 300 penumpang. Salah satu pria yang akan menaiki pesawat tersebut pada saat itu sedang menunggu di ruang keberangkatan, namun ketika itu dia tertidur. Kemudian diumumkan bahwa pesawat sebentar lagi akan berangkat. Ketika pria yang tertidur itu terbangun, ternyata pintu pesawat telah tertutup kemudian pesawat pun lepas landas. Akhirnya, pria tadi sangat sedih karena ketinggalan pesawat. Kenapa dia bisa ketinggalan pesawat? Namun, Allah memiliki ketetapan yaitu di tengah perjalanan ternyata pesawat tersebut mengalami kecelakaan. Subhanallah, laki-laki tersebut ternyata yang selamat. Awalnya dia sedih dan tidak suka karena ketinggalan pesawat. Namun ternyata hal itu baik baginya.

Oleh karena itu –saudaraku-, jika engkau telah mencurahkan seluruh usaha dan engkau meminta pertolongan pada Allah, namun hasil yang dicapai tidak seperti yang engkau inginkan, janganlah engkau merasa sedih hati. Janganlah engkau mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, pasti akan…” Jika engkau mengatakan seperti ini, maka akan terbukalah pintu setan. Engkau pun akan merasa was-was, gelisah, sedih, dan tidak bahagia. Yang sudah terjadi memang sudah terjadi. Tugasmu hanyalah memasrahkan semua urusanmu pada Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, katakanlah, “Apa yang Allah kehendaki, pasti terlaksana.”

Mengambil Sebab Bukan Berarti Tidak Tawakkal
Hadits ini juga menunjukkan beriman kepada takdir dan ketetapan Allah, di samping itu kita harus melakukan usaha (sebab). Dua hal inilah yang merupakan kaedah pokok yang ditunjukkan dalam dalil yang amat banyak dalam Al Kitab dan As Sunnah. Keadaan agama seseorang tidaklah sempurna melainkan dengan meyakini takdir dan melakukan usaha. Segala macam perkara pun tidak akan sempurna melainkan dengan dua hal ini. Karena maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, …”, ini maksudnya adalah perintah untuk melakukan usaha baik dalam urusan dunia maupun agama.

Dalil yang lain yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan, “Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:
“Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini –wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang menyelisihi tawakkal.” (Darul Falihin, 1/335)

Al Munawi juga mengatakan, “Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8)

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rizkiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.’ Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69)

Tak Pernah Usai
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, “Seandainya, kalau kita menelusuri terus kandungan hadits ini, niscaya kita akan dapati faedah yang amat banyak. Namun itulah manusia, terkadang mereka melanggar wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga ini.

Pertama, sebagian kita kurang bersemangat melakukan hal yang bermanfaat baginya, malah semangat jika melakukan hal yang berbahaya atau hal yang tidak ada bahaya dan manfaat. Siang dan malam hanya dia lewati dengan sia-sia, tanpa faedah, dan sirna begitu saja.

Kedua, jika dia memang melakukan hal yang bermanfaat, lalu dia tidak memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan, akhirnya dia akan menyesal. Perlahan-lahan keluar dari lisannya, “Seandainya saya melakukan ini dan ini, pasti akan …” Sikap semacam ini tidaklah tepat. Selama seseorang sudah berusaha melakukan yang bermanfaat baginya dan tidak lupa meminta kemudahan dari Allah untuk menyelesaikan urusan tersebut, maka serahkanlah semuanya pada Allah.”

Referensi:
1. Bahjatu Qulub Al Abror wa Qurrotu ‘Uyuni Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Maktabah ‘Abdul Mushowwir Muhammad ‘Abdullah, cetakan pertama 1425 H
2. Dalilul Falihin li Thuruqi Riyadhis Sholihin, Muhammad ‘Ali bin Muhammad bin ‘Allan Asy Syafi’iy, Asy Syamilah
3. Qoulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama 1425 H
4. Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Mawqi’ Jami Al Hadits An Nabawi
5. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Asy Syamilah
6. Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Asy Syamilah

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Baca Selengkapnya...

Jumat, 11 Juni 2010

MENGATASI KONFLIK SECARA KONSTRUKTIF




Macam macam konflik

1. The invisible conflict
• Konflik yang terjadi masih pada batin saja, jadi tidak nampak.
• Pada saat ini tidak nampak dalam komunikasi, ucapan, sikap atau tindakan
• Biasanya masih dalam taraf tidak menyinggung masalahnya apabila bertemu dalam satu bidang atau waktu.

2. The Perceived/experienced conflict
• Konflik yang terjadi pada tingkatan ini adalah konflik yang sudah diketahui, dialami, atau sudah tampak.
• Ketidak cocokan dengan lawan sudah ditampakkan dengan perlawanan-perlawanan.
• Dari masalah pendapat,motif, tuntutan, tindakan, dan bentuknya adalah perlawanan mulut atau sikap

3. The Fighting
• Sudah berubah dalam bentuk perlawanan fisik,baku hantam [agresif]
• Kondisinya sudah tidak dapat ditahan dengan hanya berucap saja, namun sudah dengan tindakan
• Apabila dalam pembicaraan sudah dengan emosi

Penyebab konflik

• Merasa tidak dihargai, didiskreditkan terutama pada momen2 yang sensitif.
• Manajemen gagal mendefinisikan peranan dan tugas masing2 anggota secara jelas. Terjadi overlap tugas.
• Komunikasi yang lemah. Kaitannya dengan keputusan yang tidak jelas atau sosialisasi yang tidak jelas.
• Kegagalan mengendalikan diri atau kehilangan kendali [loosing control/ temperament]
• A personality clash dengan bentuk macam2. Orang yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan/gaya kerja individu tertentu akan menimbulkan konflik.
• Kurang pengalaman dalam menduduki posisi/jabatan tertentu, iasanya akan menimbulkan konflik.

Konflik dapat menjadi positif

• Secara teori, konflik bersifat jelek.
• Perspektif yang perlu dimunculkan bukan semata-mata bahwa itu jelek atau tidak.
• Kenyataan, bahwa konflik sulit dihindari walau kita tidak menghendaki.
• Karena merupakan konsekuensi komunikasi
• Jadi yang perlu dimunculkan adalah perspektif positif apabila memang benar-benar tidak mampu dihindari
• Tujuan perspektif positif, agar kita tetap menjadi lebih positif menghadapi hal2 yang tidak positif
• Kita tidak terlalu terbawa keadaan yang tidak sehat
• Efek negatif akan terbawa dalam kinerja kita.

Mengelola konflik agar dapat memacu produktivitas kerja

• Fokuskan konflik pada kepentingan,kebutuhan atau prestasi
• Menggunakan cara-cara yang terbuka, dengan tujuan memacu diri dalam mencapai sasaran yang diinginkan
• Ciptakan cara yang kreatif agar dapat menghasilkan yang maksimal

Cara mengontrol emosi
1. Catch, sadar emosi kita sedang bermasalah
2. Change,berusaha mengganti dengan yang lebih positif
3. Create, menciptakan pespektif , tindakan yang tidak memperkeruh suasana.

Baca Selengkapnya...

Kamis, 03 Juni 2010

YANG MUDA YANG BERPRESTASI












Fenomena munculnya atasan muda, profesional muda, eksekutif muda saat ini bukan barang baru.

Penguasaan skill


  • Terbukanya akses pendidikan yang lebih bagus
  • Semakin mudah informasi,
  • Semakin bagusnya penemuan-penemuan,
  • Semakin berlimpahnya penyedia resource
Maka diperkirakan jumlah atasan muda di negara maju dan negara yang mau maju [developing countries] akan terus bertambah.
Yang menyebabkan Pengusaha muda yang berprestasi



1. Murni prestasinya karena karir bagus.
Walau usia muda, karena karir bagus, ia terpilih karena memang mempunyai atasan yang layak untuk itu
2. Dukungan keluarga dan prestasi.
Ia terpilih sebagai atasan karena pemilik usaha, atau perusahaannya adalah keluarga. Selain keluarga, pilihan itu memang karena kualitasnya dipandang layak untuk dipilih.
3. Jerih payah usahanya sendiri.
Ia terpilih sebagai atasan karena usaha sendiri yang dirintis sejak awal.

Karakteristik orang yang sudah sanggup mengaktualisaskan diri
  • Mempunyai persepsi sederhana [tidak ruwet]mengenai lingkungannya.
  • Dapat menerima diri dan orang lain.
  • Tidak suka ikut2 an
  • Lebih meninginkan ‘keinginan’ dari pada ‘kekesalan’.
  • Mempunyai privasi, cenderung tidak merasa kesepian.
  • Mempunyai pengalaman spiritual yang mencerahkan.
  • Dapat menghargai orang lain
  • Berkarakter demokratis
  • Mempunyai gaya hidup yang kreatif
Bagaimana menjadi muda beprestasi, namun bijak
1. Belajar dari pengalaman sendiri
2. Meningkarkan empati
3. Meningkatkan profesionalitas


Baca Selengkapnya...