SELAMAT DATANG DI WWW.SAHABATYANTI.BLOGSPOT.COM
SEMOGA BERMANFAAT UNTUK SAHABAT SEMUA

Selasa, 27 Juli 2010

SURAT UNTUK CALON SUAMIKU

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada sesiapa pun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran seorang lelaki yang menuntut sesuatu yang ku jaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.

Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu.

Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku. Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata.

Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah Radhiyallahu `Anha pernah berpesan,

“Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki”

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati jutaaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga.


*copas dari catatan seorang ukhti...* semoga Allah senantiasa merahmatimu saudariku ^_^


Sumber:

http://www.millatfacebook.com/riskamutiaramz/blog/surat-untuk-calon-suamiku-2/

Wassalam...

Baca Selengkapnya...

Senin, 19 Juli 2010

TIGA PILAR KEHIDUPAN

Tiga pilar kehidupan bagi seorang muslim adalah Taqwallah, Taqarruban billah, dan Ridhallah. Demikianlah yang harus dipahami secara tepat, sebab apabila ketiga pilar kehidupan di atas dilalaikan oleh seorang manusia, maka hidup ini hanya akan menjadi "sampah". Dan hal itu telah banyak kita saksikan betapa mengenaskan kondisi para manusia yang telah meninggalkan tiga pilar kehidupan tersebut.

Sebagai seorang muslim mukmin kita jangan sampai meningglkan ketiga pilar di atas. Betapa ruginya jika ada seorang muslim yang telah berani meninggalkan: perilaku taqwa, perilaku Taqarrub dan perilaku ridha. Sebab di kehidupan dunia yang sementara ini sebenarnya secara essensial adalah hanya menunggu datangnya saat ajal menjemput. Kita haru s benar-benar sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, tidak ada kekekalan sama sekali. Hidup di dunia penuh dengan kenisbian yang terus berganti-ganti dan berubah-ubah. Maka jika seseorang tidak memiliki prinsip-prinsip ketauhidan yang diejawantahkan ke dalam tiga pilar kehidupan, secara otomatis dia akan menjadi manusia yang gagal di kehidupannya. Sebagaimana telah dinyatakan-Nya,

"Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)." (QS. Ar Ra'd [13]: 26)

Taqwallah

Sebagai seorang muslim mukmin dikehidupan ini harus sadar benar, disamping harus memahami bahwa hakekat hidup yang sebenarnya adalah melakukan pengabdian kepada-Nya yang hal itu diwujudkan dengan terus menerus meningkatkan ketaqwaan padaNya.

Taqwa yang dimaksud yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri dan memelihara diri dari segenap hal yang dapat mendatangkan murka-Nya dan laknat rasul-Nya (Miftahul Luthfi Muhammad: 2006). Karenanya kehidupan dikatakan sukses manakala seorang muslim itu benar-benar mampu menjaga diri dan memelihara dirinya dari segenap hal yang dapat mendatangkan murkaNya dan laknat RasulNya.

Sebaliknya, dikatakan tidak sukses jikalau dikehidupan keseharianya tidak lagi mampu memelihara dan menjaga dirinya dari segenap hal yang dapat mendatangkan murkaNya dan laknat RasulNya. Seseorang yang telah CC (commitment and consistent) dengan ketakwaanya maka ia telah memiliki salah satu dari tiga pilar kehidupan di dunia ini. Akan tetapi belumlah membahagiakan di kehidupan ini manakala seorang muslim tidak melengkapinya dengan taqarruban 'inda- Allah dan ridhaLlah.

Taqarruban 'inda-Llah



Yang tidak boleh dilalaikan oleh seorang muslim mukmin adalah di mana keseharian kehidupan ini harus melakukan pendekatan diri denganNya. Setiap saat, setiap hari begitu seterusnya. Selagi dirinya masih hidup di dunia. Itulah konsekuensi logis dari kemusliman dan kemukminannya.

Tanpa upaya dan usaha yang sungguh-sungguh di adalam melkukan pendekatan diri denganNYa, maka menjadi sia-sia lah segenap aktifitas kegiatannya selama hidup di dunia. Karenanya usah adan upaya didalam meningkatkan taqwa kepada Allah hendaknya harus merupakan pencerminan sekaligus wujud pengejawantahan dari pendekatan dirinya kepada Allah Azza Wa Jalla. Di sinilah kedudukan Niat (inner strong intention) menjadi sangat penting guna mendorong lahirnya kemauan (force of character) dan kemampuan (ability) untuk meakukan perubahan perilaku (behavior transformation) dan pembelajaran sifat (character learning), guna melakukan pendekatan diri denganNya.

Dan harus disadari bahwa upaya pendekatan diri kepadaNya merupakan usaha murni yang ditujukan semata untuk memperoleh ridhaNya. Sebab dinul Islam telah mengajarkan betapa ruginya kelak disisiNya apabila seorang hamba itu segenap jerih payahnya tidak mendapatkan RidhaNya.

Ridhallah

Ridhallah merupakan puncak dari segala hal yang hendak dicapai oleh seorang muslim mukmin di kehidupanNya. Hanya dengan mendapatkan ridhaNya seorang hamba itu akan mendapatkan cinta dan kasih sayangnya yang secara khusus akan menjadikan diri seorang hamba itu bagian dari para hamba yang telah dipilihNya. Bagaimanapun kita harus sadar bahwa seorang hamba Allah masuk surga itu semata karena kehendakNya, bukan karena yang lainnya, karenanya, sama sekali kita tidak dapat membanggakan segenap amaliah yang telah dilakukan di kehidupan dunia ini.

Betapa ruginya jika di kehidupan ini seseorang melakukan segenap kegiatan tidak diniatkan hanya untuk mencari ridhaNya. Sudah dapat dipastikan bahwa orang seperti ini sangat lemah keyakinan dan keimanannya. Secara riil hal itu dapat dilihat dengan tidak adanya ghirah di dalam mengamalkan sikap mental di dalam menomor satukan Allah, jujur dan ikhlas.

Apabila di kehidupan ini seseorang sangat lemah pada komitmen dan konsistensinya terhadap kekuatan segitiga Al Mamsyuk tersebut diatas. Sudah dapat dipastikan gaya hidup dan cara berpikir budaya kafir akan cepat dengan mudah mewarnai diri dan kerpribadiannya.

Suatu misal, untuk saat ini betapa beratnya yang pasti karena dorongan hawa nafsunya untuk tidak memiliki televisi dan telepon genggam. Padahal bagi seorang muslim yang seharusnya dilakukan adalah apa manfaatnya buat aqidah-syariah-akhlak, bukan karena alasan gengsi atau memang zaman menghendakinya untuk memiliki. Maka ketiadaan dua fasilitas komunikasi itu seolah telah menjadikan diri seseorang "mundur" ke zaman batu. Benarkah demikian?

Apapun ocehan dan cemoohan dari orang lain haruslah didayagunakan untuk menjadi daya dorong yang positif –konstruktif. Di sisi lain kita harus tetap teguh dengan sgenap prinsip yang telah kita pilih. Kita tidak perlu khawatir dengan prinsip-prinsip kita, sebab landasan teori yang diajarkan sangat jelas yaitu Neraca Syariat.

Karena hidup kita hanya mencari RidhaNya maka segenap hal yang tidak dapat mendatangkan ridhaNya dan Ridha RasulNya harus ditinggalkan. Apa saja! Jadi ukuran kemnfaatan yang di kehendaki dalam ajaran islam adalah memenuhi unsure ridha dan tidaknya Allah dan RasulNya terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang manusia khususnya dikehidupan keseharian seorang muslim mukmin.

Munculkan kesadaran diri (self awareness)

Kesadaran diri seorang manusia dapat dimunculkan manakala seseorang itu telah menghadapi tekanan dan kebuntuan jalan hidup. Akan tetapi bagi seoaran gmuslim mukmin haru sterus menerus melakukan pembelajaran sifat (character learning) lalu diikuti dengan perubahan perilaku (behavior transformation). Karena hanya dengan model yang demikianlah seseorang itu dapat meningkatkan percepatan keyakinan (quantum believing). Maka, untuk menumbuhkan percepatan keyakinan hal itu dapat dilakukan mulai sedini mungkin. Bahkan, ketika mausia masih dalam bentuk janin, seorang manusia sudah dapat dilakukan pembelajaran sifat yang baik (a good character learning).

Karenanya di dalam dinul islam banyk diajarkan berbagai macam motivasi kecerdasan yang bersumber dari tauhid-syariah-akhlak. Dalam hal iini dinul islam benar-benar menjadi motivasi kecerdasan sehingga mendorong terlahirnya niat untuk melakukan perubahan perilaku. Dan dari sinilah akan mulai muncul kemauan untuk melakuakn akselerasi sikap mental (attitude acceleration) sehingga sadar benar bahwa dirinya adalah seoang muslim mukmin yang merupakan ummat mulia yang dimulakaNya.

Abad XXI dunia sangat diramaiakan dengan berbagai macam kemauan dan kemampuan. Barang siapa yang memiliki kemauan dan kemampuan, maka merekalah yang dapat hidup pada abad ini. Sebaliknya barang siap tidak memiliki kemauan dan kemampuan, maka mereka akan secara otomatis tersingkirkan dari panggung dunia yang konon telah disebut zaman modern. Terlepas dari kesemuanya dinul islam telah mengajarkan bahwa seorang muslim haruslah senantiasa memiliki kemauan dan kemampuan. Sebab apalah artinya hidup di dunia yang sementara ini tidak memiliki kemauan dan kemampuan.
Sebagaimana yang dikehendakiNya:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al Qashash [26] : 77)

Dalam rangka memenuhi pesanNya pada ayat diatas hal itu yidak dapat terwujud tanpa memiliki kemauan dan kemampuan. Merebut akhirat dan menundukkan dunia sangat dibutuhkan pula kemauan dan kemampuan.

Sementara kenyataan pelaku kerusakan di negeri ini sebagian besar orang islam. Bolehlah kita berapologia karena mayoritas pendududknya beragama Islam. Tapi apa memang demikian adanya?

Tidakkah hal itu akibat langsung dari kegagalan model dakwah dan tarbiyah yang selama ini tengah berlangsung?

Tidakkah zaman dahulu para da'i lebih berhasil mengislamkan penduduk asli bangsa ini yang mayoritas masih mengikuti keyakinan dinamisme, animism, dan hinduisme. Sedangkan sekarang ini para da'I kan hanya mengislamkan orang islam, kenapa tidak berhasil?

Padahal sangat sederhana dalam mengislamkan orang islam. Yaitu menjadikan seorang muslim komitmen dan konsisten dengan ajaran dinul islam. Sebagaimana dinyatakanNya:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
"Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta."
"Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
(QS. Al Fusshilat [41] : 30 - 33)

Sungguh inilah sebuah realitas yang sangat sulit didapatkan saat segala sesuatu sudah dinilai dengan uang. Sungguh sangat ironis jika seorang muslim ikut melakukan hal serupa, dan anehnya merasa nyaman dengan menyerupai orang-orang yang tidak mendapatkan ridhaNya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini.

Oleh: KH. Miftahul Lutfi Muhammad al Mutawakkil Penulis ialah Pengasuh Ma’had Tee Bee Tambak Bening Surabaya.

Baca Selengkapnya...